Pendapat kaum
Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid
Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yan
menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar,
baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf
atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid
kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah
pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang mereka mengaku datang
untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang
membawa bid’ah. Mereka mengikuti tauhid Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas
menyesatkan aqidah asyairah dan maturidiyah, namun kita kadang heran dalam ilmu
tauhid mereka ikut Ibnu Taimiyah tapi dalam hal zikir berjama’ah, kirim do’a
kepada orang meninggal, mereka menolak bulat-bulat pendapat Ibnu Taimiyah dan
Ibnu Qayyim, siapa wahabi itu yang semakin hari semakin aneh, fatwa-fatwa ulama
wahabi menggigilkan kita, seperti rencana penghancuran kubah kubur nabi dan
sahabat yang mulia, lagi pula ka’bah itu akan dibuat seperti patikan dan
berbentuk salib, apakah wahabi itu masih menganut kitab yahudi untuk
menyesatkan muslim lain tanpa mengedepankan pendekatan ilmiyah yang benar,
tentunya umat Islam wajib mengkaji ulabg faham wahabi sesat itu, (Syawahidul Haq)
Sedikit Bantahan Ahlussunnah
Terhadap Kaum Wahabi Yang Sangat Apriori Terhadap Ilmu Kalam.
Di antara dasar yang dapat
membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:
أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ
يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا
ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ)
Artinya: Aku
diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
(Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah.
Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darah-darah mereka dan
harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).
Dalam hadits ini
Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan
bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi
masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna
hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha
Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini
telah masuk dalam agama Islam. Hadits ini adalah hadits mutawatir dari
Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di
antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan
masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam
kitab Shahih-nya.
Tujuan kaum
Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk
mengkafirkan orang-orang Islam ahi tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi
Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka
mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan
Allah dari segi tauhid Ulûhiyyah. Demikian pula ketika mereka membagi tauhid
kepada tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tujuan mereka tidak lain hanya untuk
mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât.
Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras
dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi” terhadap
takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang
yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah. Na’ûdzu
Billâh.
Dengan hanya
hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa pembagian tauhid
kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang
yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah.
Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka membuat
ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di
mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak
cukup, tetapi juga harus dengan pengakuan tauhid Rubûbiyyah?! Bukankah ini
berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?! Dalam hadits di atas sangat jelas
memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha
Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi
orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam. Dan ajaran inilah yang telah
dipraktekan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup. Apa bila ada seorang
kafir bersaksi dengan ”Lâ Ilâha Illallâh” dan ”Muhammad Rasûlullâh” maka oleh
Rasulullah orang tersebut dihukumi sebagai seorang muslim yang beriman.
Kemudian Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat sebelum
memerintahkan kewajiban-kewajiban lainnya; sebagaimana hal ini diriwayatkan
dalam sebuah hadits oleh al-Imâm al-Bayhaqi dalam Kitâb al-I’tiqâd. Sementara
kaum Musyabbihah di atas membuat ajaran baru; mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah
saja tidak cukup, ini sangat nyata telah menyalahi apa yang telah diajarkan
oleh Rasulullah. Mereka tidak paham bahwa ”Ulûhiyyah” itu sama saja dengan
”Rubûbiyyah”, bahwa ”Ilâh” itu sama saja artinya dengan ”Rabb”.
Kemudian kita
katakan pula kepada mereka; Di dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa di antara
pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada
ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu
diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”. Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan
dua Malaikat tersebut cukup dengan hanya berkata ”Allâh Rabbi”, tidak harus
diikutkan dengan ”Allâh Ilâhi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah
jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya mentauhidkan
tauhid Rubûbiyyah saja, kamu tidak mentauhidkan tauhid Ulûhiyyah!!”. Inilah
pemahaman yang dimaksud dalam hadits Nabi tentang pertanyaan dua Malaikat dan
jawaban seorang mukmin dikuburnya kelak. Dengan demikian kata ”Rabb” sama saja
dengan kata ”Ilâh”, demikian pula ”tauhid Ulûhiyyah” sama saja dengan ”tauhid
Rubûbiyyah”.
Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:
Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:
”Tauhid Ulûhiyyah
masuk dalam pengertian tauhid Rubûbiyyah dengan dalil bahwa Allah telah
mengambil janji (al-Mîtsâq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan
firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”. Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan
”Alastu Bi Ilâhikum?”. Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rubûbiyyah,
karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui
”Rubûbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Ulûhiyyah” bagi-Nya.
Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”. Dan karena itu pula dalam
hadits diriwayatkan bahwa dua Malaikat di kubur kelak akan bertanya dengan
mengatakan ”Man Rabbuka?”, tidak kemudian ditambahkan dengan ”Man Ilâhuka?”.
Dengan demikian sangat jelas bahwa makna tauhid Rubûbiyyah tercakup dalam makna
tauhid Ulûhiyyah.
Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan sebagian pendusta besar terhadap seorang ahli tauhid; yang bersaksi ”Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasulullah”, dan seorang mukmin muslim ahli kiblat, namun pendusta tersebut berkata kepadanya: ”Kamu tidak mengenal tahuid. Tauhid itu terbagi dua; tauhid Rubûbiyyah dan tauhid Ulûhiyyah. Tauhid Rubûbiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Ulûhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Ulûhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rubûbiyyah saja tidak cukup”. Ini adalah perkataan orang sesat yang sangat aneh. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid?! Jika benar mereka sebagai ahli tauhid tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apa bila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Ulûhiyyah dan tauhid Rubûbiyyah?! Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?! Padalah sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilâh”, dan seorang yang telah memusyrikan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilâh”. Bagi seluruh orang Islam tidak ada yang berhak disembah oleh mereka kecuali ”Rabb” yang juga ”Ilâh” mereka. Maka ketika mereka berkata ”Lâ Ilâha Illallâh”; bahwa hanya Allah Rabb mereka yang berhak disembah; artinya mereka menafikan Ulûhiyyah dari selain Rabb mereka, sebagaimana mereka menafikan Rubûbiyyah dari selain Ilâh mereka. Mereka menetapkan ke-Esa-an bagi Rabb yang juga Ilâh mereka pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan pada segala perbuatan-Nya; artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya secara mutlak dari berbagai segi”.
(Masalah): Para
ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah biasanya berkata: ”Sesungguhnya para Rasul
diutus oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada umatnya terhadap tauhid
Ulûhiyyah; yaitu agar mereka mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Adapun tauhid Rubûbiyyah; yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam
ini, dan bahwa Allah adalah yang mengurus segala peristiwa yang terjadi pada
alam ini, maka tauhid ini tidak disalahi oleh seorang-pun dari seluruh manusia,
baik orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir, dengan dalil firman Allah
dalam QS. Luqman:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ
Artinya: “Dan jika engkau bertanya
kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka
mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)
(Jawab): Perkataan
mereka ini murni sebagai kebatilan belaka. Bagaimana mereka berkata bahwa
seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang
mukmin dalam tauhid Rubûbiyyah?! Adapun pengertian ayat di atas bahwa
orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah
pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan artinya bahwa mereka sebagai
orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah dan mengakui bahwa hanya Allah
yang berhak disembah. Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya
tuhan yang berhak disembah kepada selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang
musyrik disebut sebagai ahli tauhid?! Rasulullah tidak pernah berkata kepada
seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa di dalam Islam terdapat dua tauhid;
Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir
yang hendak masuk Islam bahwa tidak cukup baginya untuk menjadi seorang muslim
hanya bertauhid Rubûbiyyah saja, tapi juga harus bertauhid Ulûhiyyah! Oleh
karena itu di dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan Nabi Yusuf saat
mengajak dua orang di dalam penjara untuk mentauhidkan Allah:
أَأَرْبَابٌ مُتَفَرّقُوْنَ خَيْرٌ أمِ اللهُ
الْوَاحِدُ الْقَهّار
”Adakah rabb-rabb
yang bermacam-macam tersebut lebih baik ataukah Allah (yang lebih baik) yang
tidak ada sekutu bagi-Nya dan yang maha menguasai?!” (QS. Yusuf: 39).
Dalam ayat ini
Nabi Yusuf menetapkan kepada mereka bahwa hanya Allah sebagai Rabb yang berhak
disembah.
Perkataan kaum Musyabbihah dalam membagi tauhid kepada dua bagian, dan bahwa tauhid Ulûhiyyah (Ilâh) adalah pengakuan hanya Allah saja yang berhak disembah adalah pembagian batil yang menyesatkan, karena tauhid Rubûbiyyah adalah juga pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas. Dengan demikian Allah adalah Rabb yang berhak disembah, dan juga Allah adalah Ilâh yang berhak disembah. Kata “Rabb” dan kata “Ilâh” adalah kata yang memiliki kandungan makna yang sama sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imâm Abdullah ibn Alawi al-Haddad di atas.
Dalam majalah Nur
al-Islâm, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyâyikh al-Azhar
asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H, terdapat tulisan yang sangat
baik dengan judul “Kritik atas pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan
Rubûbiyyah” yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf
ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H), sebagai berikut:
[[“Sesungguhnya
pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah adalah pembagian yang tidak
pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah
sesat yang telah ia munculkannya. Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga
sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini.
Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan
kepadanya bahwa tauhid ada dua macam. Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa
engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Ulûhiyyah (selain
Rubûbiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau
dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.
Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang
padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada Ulûhiyyah dan
Rubûbiyyah tersebut mengaku-aku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali
pembagian tauhid ini tidak memiliki arti. Adapun firman Allah:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ
“Dan
jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan
langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman:
25)
Ayat ini menceritakan perkataan orang-orang kafir yang mereka katakan hanya di dalam mulut saja, tidak keluar dari hati mereka. Mereka berkata demikian itu karena terdesak tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang sangat nyata (bahwa hanya Allah yang berhak disembah). Bahkan, apa yang mereka katakan tersebut (pengakuan ketuhanan Allah) ”secuil”-pun tidak ada di dalam hati mereka, dengan bukti bahwa pada saat yang sama mereka berkata dengan ucapan-ucapan yang menunjukan kedustaan mereka sendiri. Lihat, bukankah mereka menetapkan bahwa penciptaan manfaat dan bahaya bukan dari Allah?! Benar, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dari mulai perkara-perkara sepele hingga peristiwa-peristiwa besar mereka yakini bukan dari Allah, bagaimana mungkin mereka mentauhidkan-Nya?! Lihat misalkan firman Allah tentang orang-orang kafir yang berkata kepada Nabi Hud:
إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ
ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ
”Kami katakan bahwa tidak lain
engkau telah diberi keburukan atau dicelakakan oleh sebagian tuhan kami” (QS.
Hud: 54).
Sementara Ibn
Taimiyah berkata bahwa dalam keyakinan orang-orang musyrik tentang
sesembahan-sesembahan mereka tersebut tidak memberikan manfaat dan bahaya
sedikit-pun. Dari mana Ibn Taimiyah berkata semacam ini?! Bukankah ini berarti
ia membangkang kepada apa yang telah difirmankah Allah?! Anda lihat lagi ayat
lainnya dari firman Allah tentang perkataan-perkataan orang kafir tersebut:
وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ
وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا
لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ
لله فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ
”Lalu mereka berkata sesuai dengan
prasangka mereka: ”Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka
sajian-sajian yang diperuntukan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada
Allah; dan saji-sajian yang diperuntukan bagi Allah maka sajian-sajian tersebut
sampai kepada berhala mereka” (QS. al-An’am: 136).
Lihat, dalam ayat ini orang-orang musyrik tersebut mendahulukan sesembahan-sesembahan mereka atas Allah dalam perkara-perkara sepele.
Kemudian lihat lagi ayat lainnya
tentang keyakinan orang-orang musyrik, Allah berkata kepada mereka:
و َمَانَرَى مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ الَّذِينَ
زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاؤُا
”Dan Kami tidak
melihat bersama kalian para pemberi syafa’at bagi kalian (sesembahan/berhala)
yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu”(QS.
al-An’am: 94).
Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.
Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.
Lihat, apa yang
dikatakan Abu Sufyan; ”dedengkot” orang-orang musyrik di saat perang Uhud, ia
berteriak: ”U’lu Hubal” (maha agung Hubal), (Hubal adalah salah satu berhala
terbesar mereka). Lalu Rasulullah menjawab teriakan Abu Sufyan: ”Allâh A’lâ Wa
Ajall” (Allah lebih tinggi derajat-Nya dan lebih Maha Agung).
Anda pahami
teks-teks ini semua maka anda akan paham sejauh mana kesesatan mereka yang
membagi tauhid kepada dua bagian tersebut!! Dan anda akan paham siapa sesungguhnya
Ibn Taimiyah yang telah menyamakan antara orang-orang Islam ahli tauhid dengan
orang-orang musyrik para penyembah berhala tersebut, yang menurutnya mereka
semua sama dalam tauhid Rubûbiyyah!”]].
Kesimpulan :
Ibnu Taimiyah tetap salah seorang diantara ulama yang
sangat keliru dalam memberikan pemahamannya tentang Islam dan tauhid, sehingga semua ulama menyesatkan Ibnu Taimiyah, kalau sudah seperti ini jelas Ibnu Taimiyah Sesat dan menyesatkan,
lantas kenapa kita harus kembali ke fatwa-fatwanya, ada apa bagi kelompk yang
membela Ibnu Taimiyah. Kita bergaul
dengan orang bodoh atau seorang preman belum tentu kita jadi kafir tapi bergaul
dengan wahabi lebih dekat kepada kekafiran. Perlu di Camkan semua Ulama Aceh
Menyesatkan Ibnu Taimiyah, saya sendiri pernah langsung mendegar pernyataan
Profesor DR. Tgk. H. Muhibuddin Waly menyesatkan Ibnu Taimiyah. Ketika acara
ulang tahun Dayah Malikussaleh Panton Labu. Na’uzubillah.














